Gajah Bernama Kuda
Thursday, November 17, 2016
Pulau Dewata Bali merupakan salah satu pulau cantik di Indonesia dengan berbagai objek wisatanya yang menakjubkan. Pilihannya lengkap, mulai dari wisata alamnya seperti Pantai Kuta yang terkenal dengan sunset-nya, Pantai Sanur yang terkenal dengan sunrisenya, wisata sejarah, kuliner hingga wisata belanja.
Tuesday, July 19, 2016
- 1
Gajah Bernama Kuda - 1
Hari pertama sekolah, hari terakhir aku pacaran. Pacarku selingkuh dengan pembantu di rumah yang usianya memang hanya selisih satu tahun lebih muda dariku. Kamu heran? Kamu mepertanyakan seberapa cantiknya—atau tepatnya, seberapa menggodanya—kah pembantuku sehingga membuat pacarku memaksakan syahwatnya? Aku nggak. Lebih tepatnya nggak peduli, dan nggak mau pusing-pusing memikirkannya. Andaikan pacarku selingkuh dengan kucing peliharanku, aku baru akan iklas merelakan separuh waktu melamunku untuk mengherankannya.
Semalam, mbakku ini pamit pulang tiba-tiba. Rumahnya di Bandung, hanya perlu naik bus dari Kampung Rambutan. Jarak rumahku ke Kampung Rambutan hanya dua kali naik angkot. Tak lebih dari sepuluh kilometer.
“Bapakku sakit keras. Kakakku memintaku pulang untuk membicarakan warisan,” katanya. Ku yakin, andaikan ibuku menyatakan ketidaksetujuannya, dan tak memberikan izin ia untuk pamit pergi, maka ia sudah menyiapkan alasan-alasan lainnya. Ku yakin juga, omongannya itu adalah hasil latihan semalaman.
Semalam, aku mengantarnya sampai pagar rumah. Ia berjalan menyusuri gang sementara aku kembali masuk ke rumah. Saat ku buka pintu, si Gagak, kucing hitamku, lari kocar-kacir seperti anak SD lagi main tak benteng. Ia keluar rumah. Aku mengejarnya, membuat kami, aku dan si Gagak, benar-benar seperti main tak benteng.
Si Gagak berhasil ku tangkap, seraya perselingkuhan antara pacarku dan pembantuku pun terkuak. Di ujung gang, aku melihat pacarku bersiap dengan motornya sementara pembantuku itu membonceng. Kamu bertanya kemanakah mereka akan pergi? Aku nggak. Apa gunanya mengajukan pertanyaan yang jawabannya mudah sekali ditebak. ‘
Tadi pagi, sebagaimana pagi-pagi sebelumnya, pacarku menjemputku. Cuma aku yang tahu bahwa ternyata yang ia jemput adalah kesia-siaan. Aku memilih berangkat naik Gojek. Kupesan sepuluh menit sebelum waktu biasanya pacarku datang. Dan seperti yang kurencanakan, pacarku dan abang Gojek datang di waktu bersamaan.
“Aku naik Gojek yang ini saja.” Helm hijau dari si abang aku pakai sementara masker yang ia tawari aku sodorkan ke pacarku. “Barangkali kamu perlu ganjelan untuk menutupi rahasia di mulutmu itu,” kataku pada pacarku.
Sungguh, itu adalah aksi yang sengaja, pun terrencana. Aku tidak patah hati. Hanya saja menurutku aksi itu akan seru dan membekas di hati pacarku. Kau tahulah, tak semua pengungkapan perasaan itu natural. Seringnya, hanya agar membekaskan kesan tertentu di obyeknya. Untuk itu, kreativitas memang diperlukan. Coba saja tanyakan ke Dilan yang mau mau repot-repot mengisi TTS lalu diberikannya kepada Milea demi pesan gombalnya itu.
“Gojek yang tadi nyambi sekolah tuh, neng? Hebat juga” tanya si abang Gojek kepadaku saat di jalan.
“Bukan bang, dia mantan pacar saya,” jawabku.
Di sekolah ramai sekali siswa-siswa baru. Mereka datang memakai seragam SMP asalnya. Banyak yang memakai seragam putih-biru, ada juga yang menambahkan rompi. Aku selalu ingat anak-anak sekolah di sinetron tiap kali melihat seragam sekolah dengan rompi.
Aku sudah tau bahwa masa orientasi kali ini berbeda konsepnya dengan tahun lalu. Nggak boleh ada iseng-isengannya sama sekali. Seluruh penyelenggaraan harus dikendalikan oleh guru. OSIS yang betapapun nggak ada niat untuk ngisengin pun dilarang ikut campur. Tahun ini, kudengar namanya diubah menjadi Pengenalan Lingkungan Sekolah demi mengubur kata “orientasi” di Masa Orientasi Siswa yang lekat banget sama perploncoan.
Ngomong-ngomong soal plonco, apakah yang kulakukan tadi kepada pacarku bisa disebut sebagai perploncoan? Kalau pun iya, nggak apa-apalah, dia memang butuh masa orientasi sebagai cowok brengsek baru. Aku melabelinya ‘brengsek” bukan karena ku membencinya. Sungguh, saat mengucapkannya pun aku nggak emosi. Kuucapkan dengan santai sebagaimana ku mengucapkan tentara pemberontak, air basah, angin dingin, atau awan biru. Lumrah.
Aku jadi ingat, temanku Tom. Tiap kali diejek karena terlalu mendamba para member JKT 48, ia selalu merespon dengan satu kalimat itu-itu saja. “Semua cowok akan melewati fase menjadi Wota,” katanya enteng.
Benar sekali, Tom! Betapapun seorang cowok nggak pernah ke teater di FX Plaza sana, betapapun ia tak apal Monster Cookies, pasti mereka pernah membayangkan muka salah satu member saat masturbasi.
Begitulah juga dengan cowok brengsek, semua cowok akan melewati fase menjadi brengsek. Jadi, ya lumrah, kan?
Di jam istirahat pertama, saat aku sedang duduk di bangku koridor kelas, seorang murid duduk di sebelahku.
Aku belum sempat melihat mukanya hingga ia berkata.
"Menurutmu," katanya, aku lihat serpihan roti jatuh dari mulutnya,"apa yang terjadi jika sekolah buka 24 jam?"
Aku tak perlu menengok hingga melihat wajahnya untuk mengetahui siapa dia. Aku hapal betul suaranya.
Aku sadar, ternyata putus membawa satu dampak yang pasti padaku. Aku lupa kalau dia, temanku yang paling teman--begitulah aku menyebutnya--sudah pulang dari "menghilang"--begitulah ia sebut masa setahun pertukaran pelajar kemarin yang ia ikuti. Aku akan ceritakan lebih panjangnya nanti--dan sudah mulai sekolah lagi hari ini.
Bagiku, dia adalah teman yang paling teman, karena... banyak. Salah satunya adalah karena cita-citanya memiliki kebun binatang, tempat ia suatu saat nanti akan memelihara gajah-gajah yang akan ia beri nama kuda.
Dan sekarang kalian tahu mengapa aku menamai kucingku Gagak.
"Jika sekolah 24 jam," akhirnya aku menjawab, "waktu bolos kita jadi lebih panjang."
"Persis," katanya dengan memanjangkan suku kata terakhirnya.
Hari ini adalah hari pertamaku pacaran sekaligus hari pertamaku punya lagi teman yang akan sering kuajak bolos sekolah nanti.
( #semogabersambung )
Hari pertama sekolah, hari terakhir aku pacaran. Pacarku selingkuh dengan pembantu di rumah yang usianya memang hanya selisih satu tahun lebih muda dariku. Kamu heran? Kamu mepertanyakan seberapa cantiknya—atau tepatnya, seberapa menggodanya—kah pembantuku sehingga membuat pacarku memaksakan syahwatnya? Aku nggak. Lebih tepatnya nggak peduli, dan nggak mau pusing-pusing memikirkannya. Andaikan pacarku selingkuh dengan kucing peliharanku, aku baru akan iklas merelakan separuh waktu melamunku untuk mengherankannya.
Semalam, mbakku ini pamit pulang tiba-tiba. Rumahnya di Bandung, hanya perlu naik bus dari Kampung Rambutan. Jarak rumahku ke Kampung Rambutan hanya dua kali naik angkot. Tak lebih dari sepuluh kilometer.
“Bapakku sakit keras. Kakakku memintaku pulang untuk membicarakan warisan,” katanya. Ku yakin, andaikan ibuku menyatakan ketidaksetujuannya, dan tak memberikan izin ia untuk pamit pergi, maka ia sudah menyiapkan alasan-alasan lainnya. Ku yakin juga, omongannya itu adalah hasil latihan semalaman.
Semalam, aku mengantarnya sampai pagar rumah. Ia berjalan menyusuri gang sementara aku kembali masuk ke rumah. Saat ku buka pintu, si Gagak, kucing hitamku, lari kocar-kacir seperti anak SD lagi main tak benteng. Ia keluar rumah. Aku mengejarnya, membuat kami, aku dan si Gagak, benar-benar seperti main tak benteng.
Si Gagak berhasil ku tangkap, seraya perselingkuhan antara pacarku dan pembantuku pun terkuak. Di ujung gang, aku melihat pacarku bersiap dengan motornya sementara pembantuku itu membonceng. Kamu bertanya kemanakah mereka akan pergi? Aku nggak. Apa gunanya mengajukan pertanyaan yang jawabannya mudah sekali ditebak. ‘
Tadi pagi, sebagaimana pagi-pagi sebelumnya, pacarku menjemputku. Cuma aku yang tahu bahwa ternyata yang ia jemput adalah kesia-siaan. Aku memilih berangkat naik Gojek. Kupesan sepuluh menit sebelum waktu biasanya pacarku datang. Dan seperti yang kurencanakan, pacarku dan abang Gojek datang di waktu bersamaan.
“Aku naik Gojek yang ini saja.” Helm hijau dari si abang aku pakai sementara masker yang ia tawari aku sodorkan ke pacarku. “Barangkali kamu perlu ganjelan untuk menutupi rahasia di mulutmu itu,” kataku pada pacarku.
Sungguh, itu adalah aksi yang sengaja, pun terrencana. Aku tidak patah hati. Hanya saja menurutku aksi itu akan seru dan membekas di hati pacarku. Kau tahulah, tak semua pengungkapan perasaan itu natural. Seringnya, hanya agar membekaskan kesan tertentu di obyeknya. Untuk itu, kreativitas memang diperlukan. Coba saja tanyakan ke Dilan yang mau mau repot-repot mengisi TTS lalu diberikannya kepada Milea demi pesan gombalnya itu.
“Gojek yang tadi nyambi sekolah tuh, neng? Hebat juga” tanya si abang Gojek kepadaku saat di jalan.
“Bukan bang, dia mantan pacar saya,” jawabku.
Di sekolah ramai sekali siswa-siswa baru. Mereka datang memakai seragam SMP asalnya. Banyak yang memakai seragam putih-biru, ada juga yang menambahkan rompi. Aku selalu ingat anak-anak sekolah di sinetron tiap kali melihat seragam sekolah dengan rompi.
Aku sudah tau bahwa masa orientasi kali ini berbeda konsepnya dengan tahun lalu. Nggak boleh ada iseng-isengannya sama sekali. Seluruh penyelenggaraan harus dikendalikan oleh guru. OSIS yang betapapun nggak ada niat untuk ngisengin pun dilarang ikut campur. Tahun ini, kudengar namanya diubah menjadi Pengenalan Lingkungan Sekolah demi mengubur kata “orientasi” di Masa Orientasi Siswa yang lekat banget sama perploncoan.
Ngomong-ngomong soal plonco, apakah yang kulakukan tadi kepada pacarku bisa disebut sebagai perploncoan? Kalau pun iya, nggak apa-apalah, dia memang butuh masa orientasi sebagai cowok brengsek baru. Aku melabelinya ‘brengsek” bukan karena ku membencinya. Sungguh, saat mengucapkannya pun aku nggak emosi. Kuucapkan dengan santai sebagaimana ku mengucapkan tentara pemberontak, air basah, angin dingin, atau awan biru. Lumrah.
Aku jadi ingat, temanku Tom. Tiap kali diejek karena terlalu mendamba para member JKT 48, ia selalu merespon dengan satu kalimat itu-itu saja. “Semua cowok akan melewati fase menjadi Wota,” katanya enteng.
Benar sekali, Tom! Betapapun seorang cowok nggak pernah ke teater di FX Plaza sana, betapapun ia tak apal Monster Cookies, pasti mereka pernah membayangkan muka salah satu member saat masturbasi.
Begitulah juga dengan cowok brengsek, semua cowok akan melewati fase menjadi brengsek. Jadi, ya lumrah, kan?
Di jam istirahat pertama, saat aku sedang duduk di bangku koridor kelas, seorang murid duduk di sebelahku.
Aku belum sempat melihat mukanya hingga ia berkata.
"Menurutmu," katanya, aku lihat serpihan roti jatuh dari mulutnya,"apa yang terjadi jika sekolah buka 24 jam?"
Aku tak perlu menengok hingga melihat wajahnya untuk mengetahui siapa dia. Aku hapal betul suaranya.
Aku sadar, ternyata putus membawa satu dampak yang pasti padaku. Aku lupa kalau dia, temanku yang paling teman--begitulah aku menyebutnya--sudah pulang dari "menghilang"--begitulah ia sebut masa setahun pertukaran pelajar kemarin yang ia ikuti. Aku akan ceritakan lebih panjangnya nanti--dan sudah mulai sekolah lagi hari ini.
Bagiku, dia adalah teman yang paling teman, karena... banyak. Salah satunya adalah karena cita-citanya memiliki kebun binatang, tempat ia suatu saat nanti akan memelihara gajah-gajah yang akan ia beri nama kuda.
Dan sekarang kalian tahu mengapa aku menamai kucingku Gagak.
"Jika sekolah 24 jam," akhirnya aku menjawab, "waktu bolos kita jadi lebih panjang."
"Persis," katanya dengan memanjangkan suku kata terakhirnya.
Hari ini adalah hari pertamaku pacaran sekaligus hari pertamaku punya lagi teman yang akan sering kuajak bolos sekolah nanti.
( #semogabersambung )
Subscribe to:
Comments (Atom)